pp_zahanain

PP. Zainul Hasanain Genggong

Kontak

Jl. KH. Hasan Saifourridzal Karangbong Pajarakan Probolinggo
zahanain00@gmail.com
085333922244

Follow Us

Tidak Semua Harapan Harus Menjadi Kenyataan

Tidak Semua Harapan Harus Menjadi Kenyataan

Sebagai manusia, kita tentu memiliki banyak keinginan. Ada cita-cita yang ingin diraih, orang-orang tersayang yang ingin dibahagiakan, serta rencana-rencana besar yang ingin diwujudkan. Namun, dalam perjalanan hidup, tidak semua yang kita harapkan akan berjalan sesuai dengan ekspektasi.

Dalam Islam, manusia diperintahkan untuk berikhtiar atau melakukan sebab-sebab yang dapat mengantarkannya pada tujuan. Ketika lapar, misalnya, kita makan agar kenyang. Ketika ingin berhasil, kita belajar dan bekerja keras. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa segala sebab tersebut hanyalah perantara. Pada hakikatnya, Allah SWT-lah Musabbibul Asbab, yaitu Zat yang menentukan terjadinya segala sesuatu.

Makanan memang dapat menjadi sebab kenyang, tetapi rasa kenyang itu tidak hadir semata-mata karena makanan. Semua terjadi atas kehendak Allah SWT. Begitu pula dengan usaha manusia: kita boleh, bahkan harus, berusaha sebaik mungkin, tetapi hasil akhirnya tetap berada dalam ketetapan Allah. Manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar, sedangkan Allah yang menentukan hasilnya.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 216:

وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.”

Ayat tersebut mengajarkan bahwa keterbatasan manusia sering kali membuat kita menilai sesuatu hanya dari apa yang tampak saat ini. Kita mungkin kecewa ketika sebuah keinginan tidak terwujud, merasa sedih ketika rencana gagal, atau bertanya mengapa doa yang dipanjatkan belum dikabulkan. Padahal, bisa jadi Allah sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang tidak baik, atau sedang menyiapkan jalan lain yang lebih bermanfaat.

Oleh karena itu, ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan, janganlah terlalu larut dalam kesedihan. Kegagalan bukan selalu tanda bahwa kita tidak mampu, dan tertundanya keinginan bukan berarti Allah tidak mendengar doa kita. Bisa jadi, apa yang kita anggap sebagai penolakan justru merupakan bentuk perlindungan dari Allah SWT.

Kita juga harus berhati-hati agar tidak berburuk sangka kepada Allah. Dalam hadis qudsi, Allah SWT berfirman:

أنا عند ظن عبدي بي

Artinya: “Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku.”

Karena itu, prasangka baik kepada Allah sangat penting dalam menghadapi setiap ketetapan-Nya. Berburuk sangka hanya akan membuat hati semakin sempit, sedangkan husnuzan kepada Allah dapat menumbuhkan ketenangan, kesabaran, dan kekuatan untuk terus melangkah.

Mungkin ada keinginan yang gagal terwujud dan membuat kita terluka. Namun, luka itu bisa menjadi jalan untuk lebih dekat kepada Allah, lebih dewasa dalam menghadapi hidup, dan lebih memahami bahwa tidak semua yang kita inginkan benar-benar kita butuhkan. Bisa jadi, jika seluruh keinginan kita selalu dikabulkan, kita justru lupa bersyukur, lupa berdoa, bahkan lupa bersujud kepada-Nya.

Pada akhirnya, tugas manusia adalah berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan penuh keyakinan, lalu menerima hasilnya dengan hati yang lapang. Sebab Allah lebih mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-Nya, bahkan ketika manusia belum mampu memahami hikmah di balik sebuah kegagalan.

 

 

Penyusun : Ahmad Gusyairi dan Tim Redaksi Web Zahanain