pp_zahanain

PP. Zainul Hasanain Genggong

Kontak

Jl. KH. Hasan Saifourridzal Karangbong Pajarakan Probolinggo
zahanain00@gmail.com
085333922244

Follow Us

Positive Thinking dalam Memondokkan Anak

Positive Thinking dalam Memondokkan Anak

Memondokkan anak bukanlah perkara yang mudah. Bagi orang tua, menitipkan anak di pesantren berarti memberikan kepercayaan kepada pengasuh, ustadz, ustadzah, dan pengurus untuk ikut mendidik serta membimbing anak.

Tentu, rasa khawatir akan selalu ada. Ketika anak bercerita tentang kehidupan di pondok, orang tua tentu ingin mendengarkan. Apalagi ketika anak mengatakan bahwa dirinya ditegur atau mendapatkan hukuman dari pengurus.

Namun, di sinilah orang tua perlu belajar untuk berpikir positif dan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan.

Allah Swt. berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”

(QS. Al-Hujurat: 12)

Ayat ini mengajarkan kepada kita agar tidak mudah berprasangka sebelum mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Ketika Anak Bercerita kepada Orang Tua

Tidak jarang seorang santri menghubungi orang tuanya dan berkata,

“Umi, saya tadi dihukum pengurus.”

Mendengar hal tersebut, tentu orang tua bisa merasa kasihan. Bahkan terkadang muncul rasa marah kepada pengurus karena menganggap anaknya diperlakukan tidak baik.

Padahal, mungkin ada cerita lain di balik hukuman tersebut.

Bisa jadi anak terlambat mengikuti kegiatan. Bisa jadi anak melanggar tata tertib. Bisa jadi sebelumnya sudah beberapa kali diberi nasihat. Atau mungkin ada alasan lain yang belum disampaikan kepada orang tua.

Bukan berarti anak berbohong. Tetapi, anak juga melihat sebuah kejadian dari sudut pandangnya sendiri.

Karena itu, sebelum menyalahkan pihak pesantren, alangkah baiknya orang tua mencari tahu terlebih dahulu apa yang sebenarnya terjadi.

Dengarkan cerita anak, tetapi jangan berhenti pada satu cerita.

Hukuman Tidak Selalu Berarti Keburukan

Dalam pendidikan, teguran dan hukuman terkadang memang diperlukan.

Seorang anak perlu belajar bahwa setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Ketika melakukan kesalahan, ia perlu belajar memperbaikinya.

Tentu, hukuman yang diberikan harus tetap dalam batas yang wajar dan bertujuan mendidik. Hukuman bukan tempat untuk melampiaskan kemarahan atau kebencian.

Karena itu, orang tua juga perlu memahami bahwa ketika anak mendapatkan hukuman, belum tentu pengurus membencinya.

Bisa jadi justru karena pengurus peduli terhadap perkembangan anak.

Seperti halnya orang tua di rumah. Ketika seorang anak melakukan kesalahan, orang tua menegur bukan karena membenci anaknya. Justru karena ingin anak tersebut menjadi lebih baik.

Begitu pula dengan pengurus di pesantren.

Jangan Sampai Anak Mengadu, Orang Tua Langsung Menuduh

Salah satu hal yang perlu dihindari adalah ketika anak mengalami masalah sedikit, kemudian orang tua langsung menyalahkan pengurus tanpa melakukan klarifikasi.

Hal seperti ini justru dapat membuat hubungan antara wali santri dan pesantren menjadi kurang baik.

Padahal, sebenarnya yang dibutuhkan adalah komunikasi.

Orang tua dapat bertanya dengan baik:

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Apa kesalahan anak kami?”

“Bagaimana kronologinya?”

Dengan cara seperti ini, masalah dapat diketahui secara lebih jelas.

Jika memang pengurus melakukan kesalahan, tentu dapat dibicarakan dan diperbaiki. Namun jika ternyata santri memang melakukan pelanggaran, orang tua juga dapat membantu memberikan pengertian kepada anak.

Dengan demikian, orang tua dan pesantren tidak menjadi dua pihak yang saling berhadapan, tetapi menjadi dua pihak yang bekerja sama mendidik anak.

Orang Tua Tidak Harus Selalu Membela Anak

Kasih sayang orang tua kepada anak adalah sesuatu yang sangat besar. Tetapi kasih sayang tidak selalu berarti membela anak dalam setiap keadaan.

Ada saatnya anak memang harus didukung.

Tetapi ada pula saatnya anak harus diajarkan untuk mengakui kesalahan.

Ketika anak salah, mungkin kalimat yang paling baik bukan:

“Kenapa kamu dihukum? Nanti Ibu yang urus!”

Tetapi:

“Kalau memang kamu salah, belajar untuk memperbaikinya.”

Kalimat sederhana seperti itu dapat mengajarkan anak tentang tanggung jawab.

Anak akan belajar bahwa orang tuanya selalu menyayanginya, tetapi bukan berarti akan membenarkan setiap kesalahannya.

Pengurus Juga Harus Menjaga Kepercayaan

Positive thinking juga bukan berarti semua kesalahan harus dibebankan kepada orang tua.

Pengurus pun memiliki tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh orang tua.

Anak-anak yang berada di pesantren adalah amanah.

Karena itu, pengurus harus memberikan teguran dengan cara yang baik, memberikan hukuman dengan tujuan mendidik, dan tidak menggunakan kekuasaan untuk menyakiti atau merendahkan santri.

Tegas boleh, tetapi tetap harus mendidik.

Pengurus juga harus memahami bahwa di balik seorang santri terdapat orang tua yang sangat menyayanginya.

Dengan demikian, kepercayaan antara pesantren dan wali santri dapat terus terjaga.

Memondokkan Anak adalah Kerja Sama

Pada akhirnya, orang tua dan pesantren sebenarnya memiliki tujuan yang sama.

Orang tua ingin anaknya menjadi baik.

Pesantren juga menginginkan hal yang sama.

Orang tua ingin anaknya disiplin.

Pesantren juga berusaha mengajarkan kedisiplinan.

Orang tua ingin anaknya memiliki akhlak.

Pesantren pun memiliki tujuan tersebut.

Maka, jangan sampai perbedaan kecil membuat hubungan antara wali santri dan pesantren menjadi renggang.

Ketika ada masalah, mari klarifikasi sebelum menuduh.

Ketika ada cerita dari anak, mari dengarkan sebelum menyimpulkan.

Ketika anak melakukan kesalahan, mari ajarkan tanggung jawab, bukan hanya pembelaan.

Dan ketika pengurus memberikan teguran, mari melihatnya terlebih dahulu dengan prasangka baik.

Memondokkan anak bukan berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada pesantren. Begitu juga pesantren tidak dapat menggantikan peran orang tua sepenuhnya.

Keduanya harus berjalan bersama.

Sebab, anak yang sedang tumbuh membutuhkan kasih sayang dari orang tua, bimbingan dari pesantren, keteladanan dari para pendidik, serta kesempatan untuk belajar bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Positive thinking dalam memondokkan anak bukan berarti percaya tanpa batas. Positive thinking berarti memberikan kesempatan kepada semua pihak untuk menjelaskan, memahami keadaan dengan jernih, dan mencari solusi terbaik demi kebaikan anak.

Semoga hubungan antara wali santri dan pesantren selalu dipenuhi kepercayaan, komunikasi, dan prasangka baik. Karena pada akhirnya, kita semua berada di pihak yang sama: ingin melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, mandiri, dan bertanggung jawab.

 

 

Penyusun : Tim Redaksi Web Zahanain