pp_zahanain

PP. Zainul Hasanain Genggong

Kontak

Jl. KH. Hasan Saifourridzal Karangbong Pajarakan Probolinggo
zahanain00@gmail.com
085333922244

Follow Us

Antara Guru dan Orang Tua: Siapa yang Harus Didahulukan?

Antara Guru dan Orang Tua: Siapa yang Harus Didahulukan?

Sebagai seorang santri, kita tentu pernah menghadapi keadaan ketika keinginan orang tua tidak sejalan dengan arahan guru. Misalnya, ada orang tua yang menginginkan anaknya berhenti mondok dan pulang ke rumah. Namun, di sisi lain, guru mengarahkan agar santri tersebut tetap melanjutkan pengabdiannya di pondok pesantren. Dalam keadaan seperti ini, tidak jarang seorang santri merasa bingung: siapa yang seharusnya didahulukan, orang tua atau guru?

Kebingungan tersebut dapat muncul karena santri memahami betapa besar jasa kedua pihak dalam kehidupannya. Orang tua telah merawat, membesarkan, dan memenuhi kebutuhan anak sejak kecil. Sementara itu, guru membimbing santri dalam menuntut ilmu, memperbaiki akhlak, dan mengenal ajaran agama dengan lebih baik.

Dalam kitab Al-Waṣāyā al-Abāʾ lil-Abnāʾ, Syekh Muhammad Syakir menjelaskan pentingnya menghormati guru dan memahami besarnya jasa seorang pendidik. Hal ini sejalan dengan ungkapan yang sering disampaikan dalam lingkungan pendidikan:

لَوْلَا الْمُرَبِّي لَمَا عَرَفْتُ رَبِّي

“Andai bukan karena pendidikku, niscaya aku tidak mengenal Tuhanku.”

Ungkapan tersebut mengingatkan kita akan besarnya peran seorang guru dalam membimbing seseorang menuju pemahaman agama dan kebaikan. Akan tetapi, memahami besarnya jasa guru bukan berarti kita boleh mengabaikan kedudukan dan hak orang tua.

Tidak sedikit orang yang memahami penghormatan kepada guru sebagai kewajiban untuk selalu mengikuti setiap perintah guru, bahkan ketika hal itu berbeda dengan keinginan orang tua. Padahal, persoalan ini perlu dipahami secara lebih bijaksana. Menghormati guru dan berbakti kepada orang tua bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan.

Guru memiliki kedudukan yang mulia karena ilmu dan bimbingannya. Namun, orang tua juga memiliki kedudukan yang sangat tinggi karena jasa, pengorbanan, dan kasih sayangnya. Keduanya patut dihormati sesuai dengan hak dan kedudukannya masing-masing.

Lantas, bagaimana jika orang tua dan guru memiliki keinginan yang berbeda? Dalam keadaan seperti ini, seorang santri hendaknya tidak terburu-buru menentukan siapa yang harus diikuti. Ia perlu memahami alasan di balik permintaan kedua pihak, berkomunikasi dengan santun, dan berusaha mencari jalan keluar yang baik. Jika persoalannya berkaitan dengan kelanjutan pendidikan atau pengabdian di pondok, santri dapat meminta penjelasan kepada guru serta menyampaikan keinginan dan kekhawatiran orang tuanya dengan penuh hormat.

Satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa menghormati guru tidak mengharuskan seorang santri mengabaikan orang tuanya. Begitu pula, berbakti kepada orang tua bukan berarti meremehkan nasihat guru. Keduanya harus ditempatkan secara proporsional, dengan tetap berpegang pada tuntunan syariat Islam.

Keteladanan dalam menghormati orang tua juga dapat kita lihat dari sosok guru kita, Hadlaratusy Syekh KH. Moh. Hasan Abdel Bar. Sebagaimana kisah yang sering diceritakan di lingkungan pondok, sesibuk apa pun beliau ketika berada di luar, termasuk saat menghadiri undangan, apabila ibunda beliau menelepon dan meminta beliau pulang, beliau segera pulang tanpa mengeluh.

Kisah tersebut memberikan pelajaran berharga bahwa kesibukan dalam menjalankan tugas, mengajar, maupun mengabdi kepada masyarakat tidak seharusnya membuat seseorang melupakan orang tuanya. Bahkan, semakin tinggi ilmu dan kedudukan seseorang, semestinya semakin baik pula akhlaknya kepada orang tua.

Pada akhirnya, menjadi santri bukan hanya tentang belajar kitab, menaati peraturan pondok, atau menjalankan pengabdian kepada guru. Menjadi santri juga berarti belajar menempatkan diri, menjaga adab, dan memahami hak setiap orang. Guru dihormati karena ilmu dan bimbingannya, sedangkan orang tua dimuliakan karena kedudukan dan pengorbanannya.

Maka, ketika dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah antara keinginan orang tua dan arahan guru, jangan sampai kita menyelesaikannya dengan sikap keras, perdebatan, atau merasa salah satu pihak tidak lagi penting. Kedepankan komunikasi, mintalah nasihat, dan carilah jalan terbaik yang tidak mengabaikan hak keduanya.

Sebab, keberhasilan seorang santri tidak hanya diukur dari banyaknya ilmu yang dipelajari, tetapi juga dari kemampuannya menjaga adab kepada guru, berbakti kepada orang tua, dan mengamalkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari.