pp_zahanain

PP. Zainul Hasanain Genggong

Kontak

Jl. KH. Hasan Saifourridzal Karangbong Pajarakan Probolinggo
zahanain00@gmail.com
085333922244

Follow Us

Satu Guru Dua Jalan: Kisah KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan dalam Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Dunia

Satu Guru Dua Jalan: Kisah KH. Hasyim Asy’ari dan KH. Ahmad Dahlan dalam Mengawal Indonesia Menuju Peradaban Dunia

Di sebuah serambi pesantren tua di Semarang, seorang ulama kharismatik tengah menatap langit sore. Di hadapannya, dua murid muda duduk khusyuk mendengarkan. Kelak, keduanya akan menorehkan sejarah besar Islam di Indonesia — satu mendirikan Muhammadiyah, satu lagi mendirikan Nahdlatul Ulama. Namun siapa sangka, keduanya pernah berguru pada orang yang sama: KH. Shaleh Darat.

Kisah itu bukan dongeng. Ia adalah potongan sejarah yang jarang diangkat: bahwa dua pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia ternyata lahir dari sumber ilmu dan nasab yang bersaudara. KH. Ahmad Dahlan, yang kala itu dikenal dengan nama Muhammad Darwis, datang ke Semarang untuk menimba ilmu agama. Di sisi lain, KH. Hasyim Asy’ari, santri asal Jombang, juga menelusuri jejak para ulama Jawa untuk memperdalam tafsir dan tasawuf. Keduanya bertemu dalam lingkaran keilmuan KH. Shaleh Darat, seorang ulama besar ahli tafsir dan sufi yang menjadi pengajar banyak tokoh Nusantara, termasuk RA Kartini. Dari KH. Shaleh Darat inilah mereka sama-sama belajar Islam yang berpijak pada ilmu dan akhlak. Namun kelak, keduanya mengambil jalannya masing-masing untuk membawa Islam berkontribusi bagi negeri.

Tahun 1912, KH. Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah di Yogyakarta. Ia menggagas pendidikan Islam modern dengan kurikulum yang menyeimbangkan ilmu agama dan pengetahuan umum. Empat belas tahun kemudian, KH. Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama (1926) di Jombang. Ia ingin memastikan ilmu-ilmu salaf tetap hidup di tengah gelombang modernisasi yang cepat. Dua jalan ini tampak berbeda. Namun sejatinya, keduanya mengalir dari sumur ilmu dan cita-cita yang sama — mengangkat martabat umat Islam dan menjaga keutuhan bangsa.

Saat proklamasi kemerdekaan berkumandang, santri, ulama, dan kader dari kedua ormas ini berada di garda terdepan. KH. Hasyim Asy’ari memimpin Resolusi Jihad 1945, membakar semangat rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Sementara KH. Mas Mansyur dari Muhammadiyah menjadi anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) yang ikut merumuskan dasar negara. Dua tokoh, dua organisasi — satu cinta pada tanah air. Mereka membuktikan bahwa NU dan Muhammadiyah bukan dua kutub yang berseberangan, tetapi dua tiang yang sama-sama menyangga rumah besar bernama Indonesia.

Kini, seruan “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia” menggema dalam tema Hari Santri 2025. Semangat itu sejatinya adalah warisan dari dua tokoh ini. Bahwa menjadi santri bukan hanya berarti taat pada guru, tetapi juga berani menyalakan obor perubahan.

Di era digital, para santri dan kader muda NU maupun Muhammadiyah terus bergerak:

  • membangun sekolah dan pesantren yang adaptif terhadap teknologi,
  • mencetak kader da’i dan cendekiawan moderat,
  • hingga mengirimkan misi kemanusiaan ke berbagai negara.

Jejak perjuangan KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari kini menjelma dalam wujud baru: santri global yang mengabdi untuk peradaban. Mereka pernah duduk di serambi yang sama, menimba ilmu dari guru yang sama, dan kini diwarisi oleh jutaan santri yang meneruskan langkah mereka. Mungkin inilah makna sejati dari “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia.” Bahwa perbedaan jalan tidak pernah memisahkan hati, dan ilmu yang bersumber dari cahaya yang sama akan selalu membawa umat menuju kemuliaan.

 

Penulis : Ibnu Zahanain