pp_zahanain

PP. Zainul Hasanain Genggong

Kontak

Jl. KH. Hasan Saifourridzal Karangbong Pajarakan Probolinggo
zahanain00@gmail.com
085333922244

Follow Us

Menapaki Tahun Baru Islam dengan Hijrah, Muhasabah, dan Syukur

Menapaki Tahun Baru Islam dengan Hijrah, Muhasabah, dan Syukur

Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Hijriah yang menandai dimulainya Tahun Baru Islam. Bulan ini memiliki kedudukan yang sangat istimewa dan sakral bagi umat Muslim, baik dari sisi keagamaan maupun sejarah.

Berikut adalah penjelasan mendalam mengenai Muharram berdasarkan sumber yang tersedia:

1. Julukan dan Makna Spiritual

  • Syahrullah (Bulannya Allah): Muharram disebut sebagai "Syahrullah". Penamaan khusus ini bersandar pada lafal "Allah" untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya.
  • Bulan Haram: Muharram merupakan salah satu dari empat "bulan haram" atau bulan suci (bersama Dzulkaidah, Dzulhijjah, dan Rajab). Pada bulan-bulan ini, umat Islam dilarang berperang dan sangat ditekankan untuk menjauhi maksiat karena dosa maupun pahala amal saleh akan dilipatgandakan.
  • Momen Introspeksi: Pergantian tahun di bulan Muharram sering dijadikan kesempatan untuk melakukan muhasabah atau evaluasi diri terhadap perjalanan hidup setahun terakhir.

2. Peristiwa Sejarah Penting

  • Hijrah Nabi Muhammad SAW: Penetapan 1 Muharram sebagai awal tahun Hijriah merujuk pada peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Kalender ini dipelopori oleh Khalifah Umar bin Khattab yang memilih momen hijrah sebagai titik awal penanggalan Islam.
  • Peristiwa Karbala: Pada tanggal 10 Muharram tahun 61 H, terjadi tragedi Karbala di mana cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali, beserta keluarga dan pengikutnya gugur dalam pertempuran membela kebenaran melawan pasukan Yazid bin Muawiyah.
  • Keselamatan Nabi Musa AS: Tanggal 10 Muharram juga merupakan hari bersejarah ketika Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya dari kejaran Firaun di Laut Merah.

3. Amalan di Bulan Muharram

  • Puasa Asyura (10 Muharram): Ini adalah ibadah yang sangat dianjurkan. Rasulullah SAW bersabda bahwa puasa Asyura dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.
  • Puasa Tasu'a (9 Muharram): Dilaksanakan sehari sebelum Asyura sebagai pembeda dengan tradisi kaum Yahudi.
  • Doa Awal dan Akhir Tahun: Meskipun tidak ada dalil hadis sahih yang mewajibkannya, masyarakat Muslim lazim membaca doa akhir tahun sebelum Magrib di hari terakhir Zulhijah dan doa awal tahun setelah masuk 1 Muharram sebagai bentuk permohonan ampun dan berkah.

4. Tradisi Muharram di Indonesia (Satu Suro)

            Di Indonesia, khususnya masyarakat Jawa, bulan Muharram dikenal dengan sebutan bulan Suro. Perayaannya merupakan hasil akulturasi budaya lokal dengan Islam:

  • Kirab Pusaka: Tradisi mengarak benda-benda pusaka keraton, seperti yang dilakukan di Kraton Surakarta, untuk memohon keselamatan.
  • Bubur Suro: Hidangan khas dari beras dan rempah dengan taburan tujuh jenis kacang, jeruk bali, dan delima sebagai simbol rasa syukur atas rezeki.
  • Ritual Keheningan: Berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang meriah, malam 1 Suro sering diisi dengan tirakatan, tapa bisu (diam tidak bicara), meditasi, dan tidak tidur semalam suntuk sebagai bentuk laku spiritual.

Secara keseluruhan, Muharram adalah bulan transformasi, baik secara fisik (sejarah hijrah), spiritual (muhasabah), maupun sosial (berbagi sedekah dan tradisi syukur).

 

 

Penyusun : Tim Redaksi Web Zahanain