Amalan Utama Dan Peristiwa Di Hari Asyura
Bulan Muharram merupakan salah satu bulan mulia dalam kalender Hijriah. Di antara hari yang paling istimewa pada bulan ini adalah tanggal 10 Muharram yang dikenal dengan sebutan Hari Asyura. Sejak masa Rasulullah saw., hari tersebut telah memiliki kedudukan yang istimewa dan menjadi momentum untuk memperbanyak amal saleh serta mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Salah satu amalan utama yang paling masyhur pada Hari Asyura adalah melaksanakan puasa sunnah pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah saw. bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Puasa pada Hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim)
Selain itu, Rasulullah saw. juga menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram atau Hari Tasu’a. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra.:
فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ
“Jika masih ada tahun depan, insya Allah kami akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)
Karena itu, bentuk yang paling utama adalah melaksanakan puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram sekaligus sebagai bentuk ittiba’ kepada Rasulullah saw. serta untuk membedakan diri dari kebiasaan kaum Yahudi yang hanya berpuasa pada tanggal 10 Muharram.
Hari Asyura juga menjadi momentum untuk memperkuat kepedulian sosial. Rasulullah saw. bersabda:
أَتُحِبُّ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ وَتُدْرِكَ حَاجَتَكَ؟ ارْحَمِ الْيَتِيمَ وَامْسَحْ رَأْسَهُ وَأَطْعِمْهُ مِنْ طَعَامِكَ يَلِنْ قَلْبُكَ وَتُدْرِكْ حَاجَتَكَ
“Apakah engkau ingin hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi? Sayangilah anak yatim, usaplah kepalanya, dan berilah ia makan dari makananmu. Niscaya hatimu menjadi lembut dan kebutuhanmu terpenuhi.”
Karena itu, Hari Asyura dapat menjadi momentum untuk memperbanyak sedekah, menyantuni anak yatim, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama.
Selain itu, para ulama juga menganjurkan untuk membahagiakan keluarga dan memberikan kelapangan nafkah sesuai kemampuan. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ
“Barang siapa melapangkan nafkah kepada keluarganya pada Hari Asyura, maka Allah akan melapangkan rezekinya sepanjang tahun.”
Tidak harus dengan sesuatu yang mewah, namun cukup dengan menghadirkan kebahagiaan dan suasana yang lebih baik daripada hari-hari biasanya.
Hari Asyura juga dikenal sebagai hari yang sarat dengan pelajaran dan hikmah dari perjalanan para nabi. Peristiwa keselamatan Nabi Musa a.s. beserta Bani Israil dari kejaran Fir’aun menjadi salah satu peristiwa yang paling masyhur dan menjadi alasan Rasulullah saw. berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk syukur kepada Allah Swt.
Karena itu, kemuliaan Hari Asyura hendaknya tidak hanya diketahui, tetapi juga dihidupkan dengan berbagai amal kebaikan. Mulai dari berpuasa, memperbanyak dzikir dan membaca Al-Qur’an, mempererat hubungan keluarga, hingga meningkatkan kepedulian terhadap sesama. Semoga momentum Hari Asyura menjadi sarana untuk memperkuat rasa syukur, meneladani kesabaran para nabi, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Disusun oleh : Tim Redaksi Zahanain
