Kontroversi Angkat Tangan Khutbah Jumat: Mengapa Mayoritas Ulama (Syafi'i-Maliki) Menghukumi Makruh?
Apakah khatib dan jamaah boleh mengangkat tangan ketika berdoa di sela-sela khutbah Jumat? Ini adalah pertanyaan fikih besar yang jawabannya berbeda-beda di kalangan para ulama terkenal. Perdebatan ini menyangkut aturan untuk khatibnya sendiri dan juga orang-orang yang sedang mendengarkan (para jama'ah).
Mayoritas ulama fikih, termasuk para imam terkemuka dari Mazhab Syafi’i dan Mazhab Maliki, mengambil posisi bahwa hukum mengangkat tangan—baik bagi khatib maupun jamaah—saat doa dalam khutbah Jumat adalah makruh (sesuatu yang tidak disukai dalam syariat, namun tidak sampai pada tingkat haram).
Pandangan ini didasarkan pada prinsip tidak adanya dalil spesifik (ketiadaan riwayat shahih) yang menunjukkan bahwa Nabi Muhammad ﷺ atau para Sahabat beliau secara rutin dan konsisten mengangkat tangan mereka setiap kali pembacaan doa dalam khutbah Jumat biasa. Mereka berhujah bahwa praktik ini tidak pernah diteladankan secara umum.
Namun demikian, para ulama mayoritas ini memberikan pengecualian yang jelas. Mereka mengakui bahwa terdapat riwayat shahih yang spesifik yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah mengangkat tangan beliau ketika sedang berkhutbah dalam situasi tertentu, yaitu ketika memohon hujan (shalat Istisqa'). Kasus ini dianggap sebagai pengecualian yang terpisah, bukan kaidah umum untuk semua doa dalam khutbah Jumat. Dalam khutbah Jumat biasa, keteladanan Nabi ﷺ adalah tidak mengangkat tangan.
Di sisi lain, sebagian ulama lain memiliki pandangan yang berbeda. Mereka berpendapat bahwa mengangkat tangan pada saat doa khutbah Jumat hukumnya adalah sunnah (dianjurkan) atau mubah (diperbolehkan). Argumen utama mereka adalah bahwa mengangkat tangan merupakan salah satu adab dan etika berdo'a yang dianjurkan dalam banyak keadaan lain di luar shalat. Oleh karena itu, mereka menganggap bahwa praktik ini seharusnya juga diterapkan dalam konteks doa khutbah Jumat sebagai bentuk kesungguhan dan pengagungan kepada Allah SWT.
Referensi:
حاشية الروض المربع لابن قاسم ٢/٤٥٨ — عبد الرحمن بن قاسم (ت ١٣٩٢)
ولا يستحب رفع اليدين في الخطبة، قال المجد، بدعة، وفاقا للمالكية والشافعية وغيرهم.
وقال الشيخ: الأصح أنه مكروه، وإنما كان ﷺ يشير بأصبعه إذا دعا، ورأى عمارة بشر بن مروان رفع يديه في الخطبة، فقال: قبح الله هاتين اليدين، لقد رأيت رسول الله ﷺ ما يزيد على أن يقول بيده هكذا، وأشار بأصبعه المسبحة، رواه مسلم وغيره.
شرح سنن أبي داود لابن رسلان
قال القاضي: إنكار رفع اليدين في الخطبة [في هذا الحديث] (٥)، والذي قبله قد اختلف فيه فكره قوم من السلف رفع اليدين في الخطبة والدعاء، وهو قول مالك وأصحاب الشافعي وغيرهم، وحجتهم هذا الحديث الصحيح، وأجازه آخرون من السلف.
القول المبين في أخطاء المصلين ١/٣٧٩ — مشهور آل سلمان (معاصر)
قال السفاريني الحنبلي: «قال علماؤنا وغيرهم: يكزه للإِمام رفع يديه حال الدّعاء في الخطبة. قال المجد: هو بدعة. وفاقًا للمالكية، والشافعية، وغيرهم، ولا بأس أن يشير بأصبعه فيها» (٨) .
ولهذا لم يستحب كثير من العلماء والمحدثين لمن كان يأمرهم برفع اليدين في خطبة الجمعة،
"Penyusun: Tim Redaksi Web Zahanain & Muz Zahanain"
